Lagi main sama Andari.
Dan seperti biasa, bagian paling susah bukan ngajak mainnya — tapi disuruh foto.
“Foto dulu ya,”
langsung kabur.
Atau mukanya datar.
Atau malah makin aktif sampai blur semua.
Akhirnya ya sudah.
Nggak ada pose.
Nggak ada aba-aba.
Candid aja.
Dan justru di situ lucunya.
Foto ini bukan foto yang rapi.
Bukan yang siap dipajang.
Rambut berantakan.
Ekspresi jujur.
Momen yang lewat begitu saja.
Tapi entah kenapa, foto kayak gini yang paling terasa hidup.
Karena Andari lagi jadi dirinya.
Lagi ketawa tanpa mikir kamera.
Lagi main tanpa sadar sedang “diabadikan”.
Kadang kita sebagai orang tua terlalu pengin momen yang sempurna.
Pose bagus.
Senyum rapi.
Cahaya pas.
Padahal buat anak, yang penting bukan fotonya.
Tapi waktunya.
Mau fotonya jadi atau enggak,
yang mereka ingat itu:
tadi main sama siapa,
ketawa sama siapa,
ngerasa ditemani atau enggak.
Dan hari ini,
kami main.
Tanpa rencana.
Tanpa konsep.
Tanpa harus terlihat sempurna.
Foto candid ini cuma bonus.
Yang utama tetap sama: hadir.
Karena nanti,
saat Andari sudah besar,
yang dia ingat bukan seberapa bagus fotonya —
tapi seberapa sering kita benar-benar ada di sampingnya.
