Sore itu terasa biasa saja—sampai kami benar-benar menjalaninya. Duduk, bercanda, dan membiarkan waktu berjalan tanpa perlu diarahkan ke mana-mana.
Andari ketawa lepas, tipe ketawa yang nggak bisa dibuat-buat.
Andara?
Bengong dengan tatapan khas bayi yang kayak lagi mikir keras… padahal mungkin cuma lagi fokus ngeliatin daun atau suara orang lewat.
Tapi justru di momen kayak gini, rasanya hidup pelan-pelan berhenti sebentar. Nggak heboh, nggak rame, tapi penuh.
Andari dengan tawanya yang bikin suasana langsung hidup. Andara dengan wajah seriusnya yang bikin siapa pun pengin nyolek pipinya.
Sore sederhana. Tapi berasa.
Kadang sebagai orang tua kita suka keburu mikir, “Kurang nggak ya?” Kurang jalan-jalan, kurang mainan, kurang ini, kurang itu. Padahal kalau dilihat dari mata mereka, yang penting seringnya cuma satu: ada orangnya.
Andari nggak ketawa karena tempatnya bagus. Dia ketawa karena ada yang diajak main. Ada yang nyautin. Ada yang pura-pura kaget. Ada yang ikut masuk ke dunia kecilnya.
Andara juga nggak peduli sore ini spesial atau nggak. Yang penting ada tangan yang gendong, ada suara yang dikenal, dan ada rasa aman yang bikin dia tenang.
Lucunya, momen yang paling berharga seringnya justru yang nggak kita rencanain. Nggak estetik. Nggak siap-siap. Candid semua. Tapi malah itu yang paling “keluarga”.
Karena hidup keluarga bukan soal dokumentasi yang rapi. Tapi soal kebersamaan yang nyata.
Main sore bareng anak itu bukan cuma “ngisi waktu luang”. Kadang itu justru inti hidupnya. Yang nanti kalau mereka sudah besar, kita bakal sadar: kok cepat banget ya lewatnya.
Besok mereka akan tumbuh. Tertawa Andari akan berubah. Tatapan kosong Andara nanti jadi langkah-langkah kecil yang makin jauh.
Dan kita bakal kangen sore-sore sederhana ini.
Jadi kalau hari ini cuma bisa duduk sebentar, gendong anak, dengerin mereka ketawa atau rewel tanpa alasan jelas… itu sudah cukup.
Karena bagi anak, orang tua sempurna itu nggak penting.
Yang penting: hadir.
Dan sore itu, kita benar-benar ada.



